Oppa Nappa

Oppa Nappa (Bad Oppa)

Jung Krystal | Byun Baekhyun

Oneshoot

Story By Mayha Kang

Cover By Mey

Editing By Mizuky

>>> Oppa Nappa (Bad Oppa) <<<

Terik matahari cukup menyengat kulit siang itu. Di bawah pohon rindang Krystal meneduhkan dirinya. Berusaha melindungi kulit putih bersihnya dari sengat mentari. Sesekali dia melirik jam cokelat yang melingkar di tangannya. Sejak beberapa menit yang lalu dia telah berdiri di sana, dan menunggu kekasihnya yang belum juga keluar dari sebuah gedung universitas.

“Kenapa Oppa lama sekali?” Desahnya.

Kakinya mulai terasa pegal dan kram, namun tidak masalah. Dia akan melakukan apapun demi orang yang dicintainya.

Sepulang sekolah tadi, Krystal langsung menuju tempat kuliah kekasihnya yang tidak begitu jauh dari sekolahnya. Berharap setelah itu mereka bisa pergi makan berdua. Baekhyun, kekasihnya, memang jarang mengajaknya makan bersama dan hal-hal berjenis kencan lainnya. Dia itu salah satu tipikal pria yang kurang peka terhadap pasangannya. Bisa dibilang dia cukup cuek terhadap Krystal. Tetapi, sekali lagi itu tidak masalah baginya.

Sepasang mata Krystal tiba-tiba membelalak ketika melihat Baekhyun bersama teman-temannya keluar dari gedung kampus. Semangatnya yang hampir padam kembali berkobar. Penantiannya ternyata tidak berujung pada kesia-siaan. Tetapi, tampaknya Baekhyun belum menyadari kehadirannya.

Oppa, Baekhyun Oppa! Panggil Krystal riang.

Mendengar namanya dipanggil oleh suara yang tidak asing lagi baginya, Baekhyun segera menoleh. Dia cukup terkesiap dengan kedatangan Krystal di kampusnya. Padahal gadis itu selalu melaporkan apapun yang hendak ia lakukan padanya. Dengan memasang ekspresi datar, dia menghampiri Krystal yang terus melambai padanya.

“Kenapa datang ke sini?” tanyanya.

Krystal langsung melingkarkan tangannya di lengan Baekhyun, “Aku ingin mengajak Oppa makan bersama.”

“Tapi, ‘kan kau tidak perlu datang ke sini. Kau bisa menelponku untuk menjemputmu di sekolah,” tutur Baekhyun.

Krystal terdiam sesaat. Berusaha mencari balasan yang tepat atas perkataan Baekhyun.

“Mmmm…aku tidak ingin merepotkan Oppa, akukan pacar yang baik,” ucapnya sambil menyeringai kecil.

Baekhyun hanya tersenyum sekilas sembari mengusap lembut kepala Krystal, “Sebenarnya aku ada janjian dengan teman-temanku, tapi mau bagaimana lagi, kau sudah terlanjur datang ke mari.”

“Benarkah? Maafkan aku karena tidak memberitahu Oppa dulu,” kata Krystal menundukkan kepala.

“Tidak apa-apa, jadi kita mau makan di mana?” tanya Baekhyun.

Krystal mendongakkan kepalanya menatap Baekhyun, “Terserah Oppa saja,” jawabnya riang.

Dengan tangan yang masih melingkar di lengan Baekhyun, Krystal beranjak dari tempatnya. Mereka berjalan menuju area parkir kampus untuk mengambil mobil Baekhyun.

Krystal cukup bersyukur dengan kedatangannya di sana. Jika tidak, rencananya untuk pergi bersama Baekhyun pasti gagal. Sebenarnya, alasan mengapa dia datang ke sana adalah karena Baekhyun selalu memiliki setumpuk alasan untuk menolak ajakannya pergi berkencan jika dia hanya mengajaknya lewat telepon. Entah alasan itu benar atau tidak, namun Krystal selalu berusaha memercayainya. Mencoba mengundang pikiran positifnya dan mendepak jauh-jauh pikiran negatifnya.

****

Baekhyun dan Krystal duduk berhadapan di salah satu kursi restoran siap saji. Makanan pesanan mereka juga telah terhidang lezat di atas meja. Krystal hendak mendaratkan hotdog-nya ke dalam mulut, tetapi dia segera mengurungkan niatnya itu saat melirik Baekhyun. Terbersit di pikirannya untuk melakukan sesuatu yang romantis pada kekasihnya yang tengah sibuk mengotak-atik ponselnya itu.

Krystal lalu mengarahkan hotdog yang hampir saja dimakannya ke arah Baekhyun, “Oppa, aaaaahh!”

Ternyata hal romantis yang ingin dilakukannya adalah menyuapi Baekhyun. Suatu adat romantisme yang kerap dilakukan oleh sepasang kekasih ketika sedang makan berdua.

“Yaa, Krystal, apa yang kau lakukan?” Baekhyun mengernyitkan dahi menatap hotdog yang dipegang Krystal.

“Aku ingin menyuapi Oppa, aaahhh!” Kata Krystal.

“Jangan bertingkah yang aneh-aneh.”

Baekhyun kemudian menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi dan melahap hotdog miliknya. Seakan tidak peduli pada suapan yang ditawarkan Krystal secara cuma-cuma. Dia memang tidak tertarik dengan hal-hal berbau romantis, terlebih di tempat umum seperti itu. Cukup menggelikan dan memalukan.

Krystal memanyunkan bibirnya kesal. Dia menatap Baekhyun tajam. Dalam hati dia menggerutu. Watak kekasihnya begitu dingin, sangat berbeda dengan tampangnya yang imut. Dia pun segera melahap dengan kesal hotdog yang telah dicampakkan oleh Baekhyun.

Di sela-sela waktu makan mereka, ponsel Baekhyun yang tergeletak di meja tiba-tiba berdering. Memecah suasana hening di antara mereka. Krystal segera melempar pandangannya pada layar ponsel Baekhyun. Mencoba mencari tahu siapa gerangan yang telah berani mengganggu waktu kencannya.

Taeyeon, Kim Taeyeon. Nama gadis itulah yang tertera di layar ponsel Baekhyun. Mantan kekasih Baekhyun yang hingga sekarang masih berhubungan dekat dengannya. Raut wajah Krystal seketika menjadi murung.

“Krystal, jamkanman!” Gumam Baekhyun beranjak dari kursinya.

Iris kecokelatan Krystal hanya bisa menatap punggung Baekhyun yang menjauh darinya. Mengapa dia harus menjauh saat hendak mengangkat telepon dari Taeyeon, padahal Krystal adalah kekasihnya. Tidakkah itu terlalu jelas mengatakan bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu? Tetapi, Krystal ingin memercayai Baekhyun. Dia yakin hubungan Baekhyun dan Taeyeon tidak lebih dari sebuah pertemanan. Hanya ada satu wanita di hati Baekhyun, yaitu dia.

Selang beberapa menit Baekhyun pun kembali. Krystal bisa menangkap dengan jelas raut penyesalan di wajahnya.

“Krystal, maaf. Taeyeon baru saja memintaku menemaninya ke perpustakaan. Dia sangat membutuhkan bantuanku untuk mengerjakan tugasnya yang harus dikumpul besok. Aku benar-benar minta maaf,” tutur Baekhyun.

Krystal mendesah pelan. Tentu sulit baginya membiarkan Baekhyun pergi, mengingat perjuangannya yang tidak mudah untuk mengajaknya makan berdua. Tetapi, dia juga tidak ingin terlihat kekanak-kanakkan di mata Baekhyun.

“Mau bagaimana lagi, dia harus mengumpulkan tugasnya besok. Oppa pergi saja, aku tidak apa-apa,” kata Krystal berusaha tegar.

Baekhyun tersenyum lega, “Jeongmal gomawo Krystal.”

Dia lalu membelai lembut pucuk kepala Krystal, “Tapi maaf, aku harus segera ke sana, jadi tidak bisa mengantarmu pulang.”

Seulas senyum masam berhasil terukir di wajah Krystal. Dan bodohnya, dia malah mengangguk riang seakan tidak masalah jika ditinggal sendirian di sana. Menghabiskan makanan yang terhidang di meja seorang diri. Sungguh tragis dan sangat memilukan, tetapi dia terus berusaha menyembunyikannya.

“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Bye!” Pamit Baekhyun.

Oppa, hati-hati di jalan!”

Krystal menatap nanar pada Baekhyun yang berjalan meninggalkannya. Taeyeon mungkin telah berhasil memonopoli Baekhyun darinya. Sebagai kekasih Baekhyun, dia tentu saja memiliki hak untuk mencegatnya pergi. Setidaknya menegurnya agar tidak terlalu dekat dengan Taeyeon. Dan menuntut pada Baekhyun agar lebih menghargainya sebagai seorang kekasih.

Bagi Krystal, tidak sulit untuk melakukan itu semua. Tetapi, dia merasa takut. Dia takut Baekhyun akan marah dan membecinya jika dia bersikap kekanak-kanakkan seperti itu. Dirinya tidak sanggup untuk kehilangan Baekhyun. Dan jika dunia mengizinkannya, selamanya dia ingin menjadi wanita pujaan di hati pria itu.

****

Sore itu merupakan sore yang sangat spesial bagi Krystal. Sore di mana dia akan mengukir kenangan manis bersama Baekhyun. Pasalnya mereka hendak pergi menonton film romance yang tiketnya telah diberikan secara cuma-cuma oleh Jiyeon, sahabatnya. Krystal sangat berharap kencannya kali ini bisa berjalan sukses. Dan jika Tuhan mengizinkan, dia ingin segera melepas ciuman pertamanya hari itu juga. Tentunya bersama sang kekasih yang sangat dicintai.

Dress berwarna soft pink selutut dan tanpa lengan telah terbalut indah di tubuh Krystal. Rambutnya dibiarkan terurai dengan dibuat sedikit bergelombang di ujungnya. Baekhyun pasti bahagia sekaligus bangga melihat kekasihnya yang cantik bak boneka Barbie itu.

Bip…biip…biiiipp!!!

Terdengar bunyi klakson mobil. Krystal melangkah keluar rumah dengan sedikit tergesa-gesa karena taksi yang ia hubungi telah datang. Baekhyun masih harus menghadiri kuliah sorenya. Jika dia menjemput Krystal selepas jam kuliah, kemungkinan besar mereka akan terlambat tiba di bioskop. Sehingga mereka memutuskan untuk bertemu di sana saja.

Ketika sudah merasa nyaman di dalam taksi, Krystal pun mengeluarkan ponsel dari tasnya, hendak mengabari Baekhyun.

To : Baekhyun Oppa

Oppa, aku sudah dalam perjalan menuju bioskop. Sampai ketemu di sana. Aku menunggumu, Oppa..

 

Ditekannya tombol “send” pada layar ponselnya. Pesan Krystal pun terkirim. Dalam hati dia terus berdoa agar kencannya kali ini tidak akan gagal lagi.

****

Baekhyun berjalan menuju mobilnya dengan mata yang tertuju pada layar ponselnya. Kuliahnya baru saja usai. Saat mendapat pesan dari Krystal, dia langsung bergegas ke tempat di mana gadis itu menunggunya.

Sore semakin menua. Sebentar lagi matahari akan segera terbenam. Sesekali terlihat cahaya kilat yang seperti membelah langit senja. Memperdengarkan gemuruh petir yang tidak terdengar begitu keras.

“Sepertinya akan hujan,” gumam Baekhyun di sela-sela perjalanan sambil memerhatikan langit dari balik kaca mobilnya.

Tiba-tiba benda kecil di sampingnya berdering. Dan sekali lagi orang yang menelponnya itu adalah Kim Taeyeon. Dengan sigap dia meraih ponselnya.

“Ada apa, Taeyeon?” Sahutnya.

“Baekhyun, kau di mana? Bisakah kau ke rumahku sekarang? Rekan kerja orang tuaku baru saja meninggal, dan aku disuruh tinggal di rumah sendirian. Sebentar lagi akan hujan, aku sangat takut,” jelas Taeyeon lirih.

Taeyeon memang anak yang sangat penakut. Dia kerap meminta Baekhyun menemaninya jika sedang sendirian di rumah. Meski hubungan mereka telah berakhir dua bulan yang lalu, tetapi mereka masih terlihat seperti pasangan kekasih yang sangat serasi.

Baekhyun berpikir sejenak. Tidak masalah baginya untuk menemui Taeyeon, tetapi dia sudah terlanjur janji dengan Krystal untuk pergi dengannya. Petir kembali menyambar. Dapat ia dengar jerit ketakutan Taeyeon dari seberang telpon. Membuatnya semakin khawatir pada mantan kekasihnya itu.

“Baekhyun, aku mohon! Aku benar-benar takut sendirian di sini,” rengek Taeyeon dengan suara yang mulai parau.

“Baiklah, baiklah, aku akan segera ke sana,” balas Baekhyun lalu memutuskan sambungan telepon.

Baekhyun akhirnya memutuskan untuk menemani mantan kekasihnya yang ketakutan daripada menemui kekasih yang tengah menunggunya. Dia menekan salah satu tombol ponselnya sebagai panggilan cepat pada Krystal, namun ponselnya tidak aktif. Dia kembali menghubunginya dan hasinya tetap saja sama.

Menurutnya Taeyeon sangat membutuhkannya saat ini sehingga Baekhyun masih berpegang teguh pada niatnya untuk pergi menemuinya. Krystal pasti langsung pulang atau mungkin menonton sendirian jika dia tak kunjung datang. Dia akan menjelaskan semuanya pada Krystal nanti. Krystal adalah kekasih yang sangat pengertian, dia pasti akan memaklumi keadaan Baekhyun.

****

Hembusan napas panjang keluar dari mulur Krystal. Lima menit lagi film yang hendak ditontonnya dimulai, namun batang hidung Baekhyun belum juga tampak. Sialnya, ponselnya tiba-tiba mati karena kehabisan baterai. Saking fokusnya pada rencana kencan dia sampai lupa untuk mengisi daya baterainya sebelum berangkat.

Mungkin Baekhyun memiliki alasan mengapa dirinya terlambat. Krystal pun memutuskan untuk tetap menunggunya.

“Permisi nona, apakah anda tidak masuk? Filmnya akan segera dimulai,” kata seorang karyawan bioskop pada Krystal.

Krystal terdiam menatap dua lembar tiket di tangannya, kemudian tersenyum masam pada karyawan itu.

“Aku masih menunggu seseorang,” jawabnya singkat.

“Baiklah nona,” balas karyawan itu kemudian berlalu pergi.

Para pengunjung berbondong-bondong masuk ke dalam studio bioskop. Hanya Krystal yang bergeming kaku di tempatnya, menunggu sang kekasih yang tak kunjung datang. Bayang-bayang momen yang indah bersama Baekhyun sekejap hilang, diikuti rasa perih yang mulai merayapi hatinya.

Mungkinkah Baekhyun lupa pada kencan mereka? Tetapi tidak mugkin karena sebelum ponselnya mati Krystal sempat mengirimi pesan padanya untuk bertemu di bioskop. Dengan perasaan yang terlanjur hancur dia tetap menunggu Baekhyun. Bagaikan orang bodoh yang menunggu seseorang yang belum tentu datang.

Tak terasa satu setengah jam lebih telah berlalu dan Krystal masih terdiam kaku di tempatnya. Masih menunggu Baekhyun yang sudah dipastikan tidak akan datang. Pintu studio pun terbuka. Para penonton berhamburan keluar yang menandakan film yang mereka tonton telah selesai. Krystal menatap kosong pada insan-insan manusia yang melintas di depannya.

Wae, Oppa Wae?!” Gumamnya pelan.

Tetes-tetes air mulai jatuh membasahi wajahnya. Dia meremas lembaran tiket di tangannya kuat-kuat. Perasaan sedih, kecewa, dan kesal bercampur mengarungi relung hatinya. Dia pun berlari keluar bioskop.  Ternyata hari telah gelap dan hujan sedang turun dengan derasnya. Lengkap sudah kesedihan Krystal. Bahkan langit gelap tanpa bintang itu pun bagaikan menangis untuknya.

Dia berlari menorobos hujan. Tidak peduli pada tubuhnya yang telah basah kuyup. Dia terus berlari tak tahu arah. Air matanya jatuh semakin deras bersama dengan hujan yang juga semakin lebat. Petir berkali-kali menyambar, tetapi dia tidak peduli. Bahkan dia tidak merasa takut sedikit pun. Hatinya terlampau sakit untuk merasa takut.

Krystal masih saja berlari, kini dengan napas yang mulai memburu. Tanpa sadar kakinya membawanya sampai pada rumah Baekhyun. Di tengah derasnya hujan dia terpaku diam menatap rumah yang cukup megah itu. Rasa dingin yang hebat mulai menghampiri tubuhnya. Baru saja dia melangkah untuk memencet bel, cahaya dari sebuah mobil menyilaukannya.

Mobil itu adalah mobil yang sedang dikemudikan Baekhyun. Baekhyun segera menghentikan mobilnya. Dia sangat terkejut melihat Krystal yang telah basah kuyup berdiri di depan rumahnya.

“Taeyeon, kau tunggu di sini dulu!” Pintanya.

Dia kemudian mengambil payung hitam yang memang selalu disiapkannya di dalam moil. Dia bergegas turun dari mobil untuk memayungi Krystal.

“Yaa, kau bodoh! Kenapa kau hujan-hujanan seperti ini?” Pekik Baekhyun cemas.

Tangis Krystal semakin pecah. Dia menangis di hadapan Baekhyun yang sedang memayunginya. Baekhyun bisa melihat dengan jelas bulir-bulir air yang menetes dari mata Krystal.

Majayo, Oppa. Aku hanyalah gadis bodoh bagimu,” isak Krystal, “Aku terus menunggumu di sana, hanya untuk bisa bersama denganmu, tapi Oppa malah pergi dengan gadis itu!”

Mata Krystal bisa menerawang gadis yang yang berada dalam mobil Baekhyun yang tidak lain adalah Taeyeon. Hatinya sangat sakit, seperti dicabik dan ditusuk berkali-kali.

Mianhae, aku bisa menjelaskan semuanya padamu. Tapi, kau harus mengeringkan badanmu dulu. Kau bisa sakit,” kata Baekhyun hendak mendekap Krystal.

Krystal segera menepis pelukan Baekhyun dan menjauh dari kekasihnya itu.

“Sejak awal aku sudah sakit karenamu Oppa. Kau menyakiti perasaanku! Meskipun gadis yang berdiri di hadapanmu adalah aku, tapi kau tidak pernah melihatku. Kau hanya melihat mantan pacarmu! Erang Krystal.

Baekhyun tertunduk diam. Dia mengakui dirinya bersalah. Dia tidak pernah menghargai perasaan Krystal. Padahal Krystal sangat tulus mencintainya.

“Di matamu aku hanya seorang anak kecil yang bisa kau bodohi,” gumam Krystal pelan sembari tersenyum miris.

Bola mata Baekhyun menatap lekat pada Krystal yang kembali diguyur hujan karena tak lagi berlindung di bawah payung. Gadis itu terlihat sangat lusuh. Mata indahnya masih saja mengeluarkan butiran-butiran air. Baekhyun sangat menyesali perbuatannya. Dia lalu menurunkan payungnya dan ikut bermandikan hujan bersama Krystal.

Mianhae, jeongmal mianhae,” gumam Baekhyun pelan.

“Sebagai gadis bodoh aku selalu memaafkanmu. Tidak peduli bagaimana sakitnya kau melukaiku, aku selalu berusaha tersenyum di depanmu. Itu semua kulakukan karena aku tidak ingin kehilanganmu,” tutur  Krystal.

Baekhyun tiba-tiba memeluk Krystal dengan sangat erat. Membuat gadis itu tidak sempat menghindar. Baekhyun bisa merasakan tubuh Krystal yang gemetaran karena dingin. Dan samar-samar bisa mendengar isak tangis gadis itu dipelukannya.

“Maaf, aku memang salah. Maafkan aku,” kata Baekhyun semakin mengeratkan pelukannya.

Krystal terdiam sejenak, berusaha meredakan tangisnya di tengah hujan yang semakin deras.

“Mungkin…tidak masalah bagimu jika aku pergi. Kau lebih memilih mantan kekasihmu daripada diriku, jadi biarkan aku pergi,” kata Krystal yang masih berada dalam pelukan Baekhyun.

Pelukan Baekhyun yang begitu kuat perlahan melemas mendengar ucapan Krystal. Hatinya hancur mendengar ucapan yang terlontar dari orang yang sangat ia cintai. Tetapi, dia berhak mendapatkan semua ini. Mungkin rasa sakit yang dirasakannya merupakan balasan atas kelalukuannya selama ini pada Krystal.

Meski pelukan Baekhyun sudah tidak seerat tadi, namun Krystal masih merasa nyaman dipelukan Baekhyun. Ditengah rasa sakit yang melanda hatinya dia mencoba menikmati kehangatan pada detik-detik terakhir pelukannya bersama Baekhyun.

Oppa, aku sangat mencintaimu, tapi…hubungan ini lebih baik berakhir di sini saja,” bisiknya lirih di telinga Baekhyun.

Krystal kemudian melepas dekapannya pada Baekhyun. Dia segera berbalik dan berlari sekencang mungkin meninggalkan Baekhyun. Dia telah mengakhiri hubungannya dengan orang yang sangat dia cintai. Baekhyun mungkin bukanlah pria yang tepat untuknya. Begitu pula dirinya. Dia mungkin bukanlah gadis yang tepat untuk Baekhyun.

Begitulah cinta, dimulai dengan sebuah senyuman, bertumbuh dengan sebuah ciuman, namun terkadang berakhir dengan tetesan air mata….

END_

Thanks to :
Kak Mey, yang udah ngbuatin cover yg sangat bagus untuk ff ini ^^ Makasih bnyak yah kak. Maaf yah udh ngrepotin kakak >,<
Mizu saeng, yang udh mau nyempetin wktu’y ngoreksi ffku yg bertabur kesalahan2 dlam penulisan ini. Mkasih banyak yah saeng & maaf ngrepotin..
Terima kasih jg buat para my lovely readers yg slalu setia nungguin ff dariku *jika ada* >,< jeongmal gomawo ~

For my lovely readers keep RCL, no bashing and plagiarism! Okay ^_~