faint2

Cast : Krystal, Kai

Genre: Drama, Romance, angst (not sure).

Lenght: Chapter.

Warning: Just a fiction, dont take it so serious^^ and, forgive me for miss editing/typo.

Faint Sekuel

|Previous|

Because it’s You-Two

It’s better if we were stranger.

Bukan hal yang buruk bagi Kai setelah beberapa tahun berlalu. Karier yang mantap, hidup yang berkecukupan, dan bahagia kini ia peroleh.

Terkadang hidup memang harus memilih. Dan, saat itu, Kai merasa benar karena dia lebih memilih Kanada.

Sebuah kota yang cukup kaya untuk bisnis yang dulu diberikan Sooman Sajangnim untuknya setelah satu tahun dia bekerja di Jeju.

Hingga kini Kai bisa berada disini, disalah satu pesawat yang akan membawanya ke Korea.

Kembali kekampung halaman, sudah berapa tahun berlalu?

Sekitar lima tahun mungkin, dan itu semua membuat Kai sungguh-sungguh berterima kasih pada Sooman Sajangnim, berkat beliau Kai sesukses ini. Bisa menggunakan setelan bermerk, duduk di kelas bisnis perjalanan terbaik menuju Seoul, dan sedikit banyak merasa dihormati.

Kalau boleh jujur, ini merupakan cita-cita Kai sejak dia kecil, dan ketika semua ini menjadi nyata Kai merasa sangat bahagia dan beruntung, terlepas dari kehidupan cintanya yang sempat berantakan—tapi, jika timbal-baliknya sebagus ini tidak ada alasan bagi Kai untuk bersedih.

Mungkin dengan kembalinya dia ke Korea hari ini, dia bisa menemukan Krystal?

Syukur kalau Krystal belum menikah single dan menunggu kedatangan Kai.

Kai terkekeh sendiri menyadari pikiran bodohnya, hey, mana mungkin Krystal akan menunggunya hanya karena kalung bunga matahari yang dia berikan sesaat sebelum ke Kanada.

Jika memang itu terjadi, mungkin Kai akan berkeliling ratusan kali mengitari gereja dan bersembayang dengan khidmat, Terima kasih Tuhan, atas mukzizat yang Engkau berikan

Lucu sekali…

Excuse me sir.” Sebuah suara menyentak Kai. Dengan cepat lelaki berbibir tebal itu mendongak, menatap sesosok wanita yang memanggilnya.

Wanita berwajah oriental, bertubuh mini namun sexy dan cantik… Mungkin seorang turis yang baru berlibur ke Kanada?

“Can you change your seat with me? I feel sick if i sit beside the window.” Ujar wanita itu. Wajahnya terpampang raut tidak enak saat meminta Kai.

Kai tersenyum, lalu mengangguk, “Sure.”

Kemudian Kai berpindah pada tempat duduk yang seharusnya ditempati wanita itu.

Lima belas menit berlalu hingga pesawat lepas landas. Kai hanya terdiam sambil menatap hamparan langit diluar sana. Dengan posisi tangan kanan yang menopang dagu, tanpa menyadari wanita yang memintanya bertukar kursi tadi sedang mengamati lelaki itu.

“Do you like the sky view?”

Kai sedikit berjengit mendengar suara halus itu. Dengan cepat Kai menoleh pada wanita yang tadi memintanya bertukar tempat duduk.

“Excuse me? Ah, yes… The sky just remind me of someone.”

“Really? Is it girl right?” Tebak wanita itu. Kai terkekeh, kenapa? Karena memang Kai sedang memikirkan seseorang saat itu.

Siapa lagi?

Satu-satunya dan selalu, Jung Krystal.

Entah kenapa melihat pemandangan langit yang begitu memukau membuat Kai kembali ke masa lalu, saat Krystal dan dia baru saja bertemu di cafe—saat itu pertemuan pertamanya dengan Krystal, kai masih ingat betul saat Krystal menabrak—lebih tepatnya ditabrak seorang anak kecil didepan cafe, seseorang, apalagi saat itu sedang terburu-buru pasti akan kesal jika ditabrak begitu saja, apalagi sampai jatuh seperti waktu itu. Hebatnya Krystal tidak marah, gadis itu malah tersenyum pada sia anak yanga sedang menangis dan menenangkannya.

Kai masih ingat, saat itu Krystal mengatakan, “Jangan menangis, kau tidak malu pada langit? Aku suka langit, selalu kuat menjaga kita dari atas sana, jadilah kuat seperti langit, maka kakak akan memaafkanmu dan lukamu tidak akan sakit lagi, arrachi?”

Saat itu Kai langsung terpesona pada Krystal, wajahnya yang tersenyum, begitu cantik dan… hey, gadis itu sangatlah baik, mungkin jarang diantara gadis-gadis yang pernah dikencaninya.

Itulah awal saat Kai jatuh pada Krystal.

Pertemuan sederhana yang berakhir rumit, bagi Kai.

“You’re right.”

“Woaa… That girl is the lucky one.”

Kai mengerutkan kening tanpa melepas senyum bersahabat miliknya.

“Why?”

“Because you’re so kind and handsome.”

Seketika kerutan di dahi Kai lenyap tergantikan tawa kecil.

“I don’t think so, i bet she is the pityfull one. We can’t be together because of me.” Jawab Kai dengan senyum simpul yang tak lepas dari wajahnya, tapi dibalik itu sang wanita mengerti ada sesuatu dimata Kai yang mengatakan lelaki itu kecewa.

Anggap saja insting wanita kuat, pada dasarnya memang Kai merasakan hal itu.

“Ah— I’m sorry… I don’t know what happen to you, but, life always have a different way to making happiness. I believe you will get your love as soon as posible.”

Wanita itu menepuk pundak Kai prihatin. Entahlah, dia sedikit merasa bersalah memilih topik sesensitif itu padahal mereka baru saling bertatap muka.

“Yeah, love always have a different to make a right way. It’s okay miss.”

*

‘Krys, ini waktunya Sooeun meminum susunya. Apa kau bisa kemari sebentar? Kumohon, dia menangis terus!’ Suara Baekhyun terdengar jelas melalui kotak kecil yang berada di telinga kanan Krystal.

Barusaja Krystal berniat membalas puluhan pesan Baekhyun yang menanyakan kesibukannya, dan, cara membuat susu yang benar tapi, kelihatannya Baekhyun benar-benar kesulitan, buktinya dia menelpon langsung Krystal begitu jam makan siang dimulai.

Krystal menggeleng sebelum menjawab lelaki yang sudah dikenalnya bertahun-tahun itu.

Tssk! Byun Baekhyun kau benar-benar.

“Kau ini sudah menjadi Appa Baekh! Kenapa membuat susu saja tidak bisa sih?” Omel Krystal, memang mulut Krystal mengomel tapi berbanding terbalik dengan itu, Krystal beranjak dari kursi yang tengah didudukinya lalu mengambil tas tangan kecil yang berada di meja kerjanya sebelum mulai melangkah.

‘Ayolah Krys, aku bingung harus bagaimana.’

“Iya, iya… Sepuluh menit lagi aku sampai disana!” Ucap Krystal sebelum menutup teleponnya. Dengan tergesa gadis itu segera menemui Baekhyun, dia tidak mau Sooeun mati kehabisan cairan karena terus menangis.

“Kau ini!” Krystal mendesis, menatap Baekhyun yang hanya bisa menggaruk tengkuknya sambil meringis-ringis kecil.

Lima menit yang lalu Krystal tiba ditempat Baekhyun dan tepas saat itu ia menemukan pemandangan yang sangat, bahkan amat sangat mengenaskan!

Apartemen yang berantakan dengan popok bayi, mainan dan barang-barang bayi berserakan menyambutnya.

Demi Tuhan ingin sekali Krystal membunuh Baekhyun saat itu juga begitu melihatnya, belum lagi tangisan Sooeun–bayi perempuan kecil–yang memenuhi apartement itu.

Jujur saja krystal prihatin dengan Sooeun, kenapa bayi mungil itu bisa mendapat Appa bodoh seperti Baekhyun?

Mengurus bayi saja tidak becus.

“Maaf Krys, Suzy sedang keluar kota mendadak, nanti baru pulang… jadi kau tahukan tidak ada Ummanya aku bingung mengurus Sooeun sendirian.”

Krystal menggeleng kecil mendengar penuturan Baekhyun. Matanya menatap nanar pada Sooeun yang kini berada dalam gendongan Krystal.

Bagaimana nasib Sooeun kalau Krystal meninggalkan bayi cantik ini bersama Baekhyun sendiri?

Hi—

Membayangkan saja Krystal bergidik ngeri.

Kau pasti mati Baekhyun jika Suzy melihat ini semua!

“Sudahlah, aku akan mengambil cuti setengah hari untukmu. Kubantu kau…”

“Jeongmal?”

Krystal mengangguk.

“Tapi… bagaimana pekerjaanmu? Kurasa kau harus kembali limabelas menit lagi.”

“Aku akan mengurusnya dengan bosku. Kuharap dia akan mengerti…”

Setelah itu, dengan hati-hati Krystal memberikan Sooeun ke tangan Baekhyun. Sedangkan ia harus menelpon atasannya untuk meminta izin membantu Baekhyun.

“Bagaimana?” tanya Baekhyun sesaat setelah Krystal kembali.

“Jam berapa Suzy kembali?”

Tanpa menjawab Krystal balik bertanya, membuat Baekhyun mengerutkan dahinya. Separuh bingung, separuh mengingat apa yang dikatakan Suzy pagi tadi sebelum berangkat.

“Suzy bilang jam tiga dia sudah ada dirumah.”

Krystal tersenyum, tangannya mulai meraih Sooeun dari pelukan Baekhyun.

“Kubantu kau, tapi, setengah empat aku harus pergi menjemput teman Bos ku dibandara. Itu syarat darinya.”

“Syukurlah ada kau Krys…”

“Itu gunanya sahabat Baekh! Cepat bereskan kekacauan ini! Akan kuurus Sooeun.”

*

Butuh beberapa waktu bagi Krystal untuk sampai di bandara, untung saja semuanya sudah beres ketika Suzy sampai dirumah. Krystal hanya tersenyum simpul mengingat Suzy tadi menganiaya Baekhyun—dengan mencubiti perutnya—saat tahu Baekhyun menyusahkan Krystal lagi—oh percayalah hal ini sering, tidak hanya karena Sooeun, bahkan Baekhyun pernah memanggil Krystal malam-malam hanya untuk membantu membujuk Suzy yang pernah kabur dari rumah, atau hanya untuk mengantar Suzy berbelanja.

“Sampai kapan kau mau menyusahkan Krystal? Dia sampai cuti kerja gara-gara kau, ya Tuhan…”

Itu kata-kata yang Suzy ucapkan tadi, jujur saja Krystal tidak pernah terganggu ketika Baekhyun atau Suzy menyusahkannya, malah dia cukup senang.

Ada yang meneleponnya, ada yang berteriak minta ditemani, ada yang memohon padanya, semua itu membuat Krystal yang notabene hidup sendiri tidak pernah merasa kesepian, dan dia cukup bahagia.

Disamping itu semua, bukankah Krystal harus melakukan sesuatu yang lebih penting?

Mencari teman Bosnya.

Di depan sana gate penjemputan mulai penuh sesak, Krystal mulai berpikir bagaimana caranya agar berada di depan sana.

Oh mungkin saat ini Krystal harus mensyukuri badannya yang langsing dan tinggi, sebuah poin plus untuk membelah kerumunan orang didepan sana. Kalau saja dia tidak merasa sebuah—sesosok orang bertubuh gembul mendorongnya.

Tubuh Krystal limbung dalam hitungan detik. Dan terjatuh tepat dibelakang kerumunan.

Sial—

Krystal mendesis, mata kucingnya menatap garang orang yang sudah tidak terlihat itu.

Bahkan tidak ada kata maaf atau menolongku…

“Kau baik-baik saja?”

Suara itu—

Krytal mendongak cepat, matanya terbuka lebar. Ada seseorang disana—mengulurkan tangan untuk membantunya.

“…”

Cantik sekali—

Tanpa disadarinya, Krystal berdecak kagum sembari mengangguk.

“Jung Soojung? Aku benarkan?”

“Benar, apakah anda teman Bos Yifan?”

“Perkenalkan, aku Song Qian, panggil saja Victoria.”

“Ah ye, perkenalkan.”

Sebenarnya disini, siapa yang menjemput dan dijemput?

*

Satu, dua, Krystal mencoba menghitung berapa orang yang berada diruang tamu Kris.

Ada empat orang disana sekaligus dia dan Victoria. Dua orang yang lain—lelaki, Krystal tidak mengenalnya, dari yang Krystal tahu mereka orang China sama seperti Bosnya.

Good, sekarang gadis itu sendirian di teritorial orang China. Tidak bermaksut untuk rasis, hanya saja Krystal merasa kurang nyaman mengingat bahasa China gadis itu sedikit kurang dan mereka—selain Krystal—sedikit banyak menggunakan bahasa China sekarang.

Oh God, ke mana Bosnya saat ini.

Krystal ingin segera berpamitan dan pulang, maka dari itu dia masih diam dipojokan sofa sambil sesekali bergerak gelisah. Menunggu Kris yang—kata kedua orang lelaki disana sedang pergi membeli sampagne.

“Jadi namamu Jung Krystal? Perkenalkan aku Yixing, biasa dipanggil Lay.”

Suara seorang pria yang sejak tadi berkutat dengan bantal bewarna coklat di sofa membuat Krystal mendongak.

Pria berambut pirang, dan memiliki otot yang bagus serta mata teduh yang kini mengerjab pada hazel Krystal.

Oh God, kenapa Kris memiliki teman setampan itu? Salah apa Lay berteman dengan Kris?

Maksut Krystal, kenapa orang yang kelihatannya ramah dan polos ini bisa berteman dengan Kris yang dingin dan diktator?

“Ne, salam kenal Lay-si… Tapi…”

“Kenapa aku bisa tahu namamu begitu?” Tebak Lay tanpa Krystal menjelaskan maksutnya.

Tentu, dari gelagat Krystal sudah kelihatan kalau gadis itu heran saat Lay memanggil namanya.

Krystal mengangguk—melupakan kenyataan kalau Vic sudah mengetahui namanya. Bukankah wajar kalau Lay mengetahui namanya.

Dasarnya lupa, mungkin Krystal tidak berpikir sampai kesana.

“Semua yang disini tahu, yakan Lu?”

Mata Lay terarah pada sesosok pria berambut cokelat  yang baru saja muncul dari arah dapur, bersama Victoria.

Pria itu mengangguk, “Hay aku Luhan.”

“Kenapa bisa?”

Semua orang–selain Krystal hanya terkekeh kecil.

Lalu Victoria yang tadinya berdiri beranjak mendekati Krystal, duduk disampingnya.

“Kau harus bertanya pada Wu Yifan.” Kerling Victoria.

Sontak, Krystal mengernyit.

Apa hubungannya dengan Kris?

Ah– mungkin karena Kris memang sangat suka mengeluh tentang kinerjanya.

Tebak Krystal.

Krystal pun mendengus.

Jadi itu, Bosnya suka curhat tentangnya pada orang-orang ini.

“Apa dia suka mencelaku? Eissh.” Krystal mengerang frustasi.

Kali ini semua terbahak mendengar erangan Krystal.

“Bukan.”

“Lalu?”

Krystal mendongak, menatap Luhan yang baru meresponnya.

Mata gadis itu mengerjab beberapa kali menatap seringaian yang terbentuk dibibir Luhan.

What’s going on here?

“Jangan dengar mereka!” Sebuah suara mengagetkan Krystal.

Suara dingin dan berat.

“Ah Bos, aku…”

“Kalian bilang apa tadi padanya?” Sungut Kris mengabaikan Krystal. Mata tajam Kris menatap pada tiga orang kawannya.

Sedang yang ditatap hanya mengangkat bahunya jenaka.

“Tidak ada,” jawab Lay, “Tepatnya belum.” Sambung Luhan.

Kris mendesis, dan berbicara singkat dengan bahasa China.

Demi neptunus dan ikan-ikan yang berenang di lautan luas, ocehan Kris bagaikan sebuah kata tanpa arti bagi Krystal.

Dan itu membuat hazel sang Krystal semakin mengerjab.

Oh Tuhan, mengapa Engkau mengasingkan aku disini?

Krystal mulai berteriak dalam hati.

Menatap keempat–ketiga selain dia dan Kris–yang kini tertawa keras.

Apa yang lucu?

“Sebenarnya ini kenapa?” Desis Krystal frustasi.

“Tidak, jangan dengar mereka! Kau mau pulang?” Sahut Kris.

Sekali lirik Krystal tahu Kris tidak nyaman dengan keberadaannya disini.

Okay, dia juga kurang nyaman disini.

Mungkin lebih baik Krystal pulang.

“Krystal ikut makan malam dengan kita.” Victoria tiba-tiba menyahut.

Membuat bola mata Krystal membulat.

Tunggu…

“Tapi,”

“Tidak ada tapi-tapian Krys!” Potong Victoria.

Tanpa aba-aba Krystal melirik Kris yang kini menghela nafas dalam dan berkata entah apa pada ketiga temannya.

“Kelihatannya menyenangkan.” Kikik Luhan tak menghiraukan–mungkin–protes dari Kris.

Lay pun mengangguk menatap Krystal, didetik berikutnya Krystal menoleh pada Kris.

Mencari persetujuan.

“Maaf ya.” Hanya itu yang selanjutnya Kris ucapkan.

Kenapa Kris minta maaf?

Krystal semakin bingung.

*

“Kau menyukainya?”

Krystal tersentak, mendengar Kris yang baru saja disampingnya. Menatap sky view dari balik beranda.

Sebuah beranda yang tergabung dengan ruang makan dan ruang tengah.

Mereka baru saja menyelesaikan makan malam.

“Apa? Langit?”

“Makan malam ini.” Bisik Kris hampa, menatap kosong langit diatas sembari menggoncang-goncangkan gelas sampagne-nya.

“Kenapa? Mereka menyenangkan?” Jawab Krystal, manik hazelnya bergerak. Melirik ketiga orang yang masih bercengkrama hangat dalam ruang makan Kris.

Kris mendengus, mulutnya bergerak menyesap wine yang aromanya telah ia hirup sejenak lalu menggoyangnya.

Sepertinya lelaki itu tahu benar cara menikmati wine.

Sejak tadi, entah mendapat pemikiran dari mana. Krystal merasa hari ini Kris berbeda, lebih kalem, dan lebih hangat.

Parahnya, Kris terlihat seratus kali lebih tampan dari biasanya.

Mungkin karena rambut pria itu kini sedikit berantakan dan penampilannya lebih casual.

Berbeda dengan keseharian Kris dikantor yang tanpa cela.

Setelan jas armani dan rambut yang selalu disisir rapi, terlihat kaku menurut Krystal.

Apa mungkin ini karena Victoria?

Sudah beberapa kali sejak tadi Krystal menangkap gesture Kris berbeda ketika bersama Victoria.

Apalagi ketika Victoria sesekali membisikkan sesuatu pada Kris yang membuat telinga lelaki itu memerah dan sedikit tersipu.

Hey, Krystal bahkan sampai harus mengerjab beberapa kali saat pertama melihatnya.

Yang dia tahu Kris pribadi yang tenang dan dingin, bukan seperti tadi.

Apa Krystal salah tangkap?

Tapi, yang namanya cinta memang selalu membuat diri sendiri layaknya orang lain, benarkan?

“Mereka kekanakan.”

“Aku suka.”

Kris mendecih lagi, tangannya berkalung pada pagar balkon dan kelopaknya menutup merasakan semilir malam, “Bahkan ketika mereka menggodamu?” Kris membuka matanya, menatap lurus Krystal.

“Maksudmu?”

“Harusnya kau belajar bahasa China Soojung-ah.”

“Ini pertama kalinya kau memanggil nama asliku selain saat kita dikantor.”

Kris terkekeh, benar juga. Selama ini jika di luar kantor Kris hanya memanggilnya dengan Krystal, bagi Kris, Krystal itu bening, cocok untuk pribadi Soojung.

Bisa dibilang Kris menyukai western name gadis itu.

“Kau mencoba mengalihkan perhatian?” sejujurnya Kris lah yang mengalihkan perhatian. Benar saja, Kris tidak mau berakhir dengan mengaku bahwa dia menyukai nama Krystal.

Mungkin terlihat keras kepala, tapi, itulah Wu YiFan.

“Kalau begitu, apa yang mereka katakan?”

“Kau tidak akan mau dengar.”

“Anggap saja aku sudah tahu apa yang akan kau katakan Bos makanya aku tidak bertanya.”

Krystal terkekeh, menatap Kris yang kini tersenyum simpul. Memperhatikan manik Krystal yang indah. Krystal sedikit salah tingkah, dan berakhir gadis itu mengalah, kembali menatap hamparan jalan kota Seoul yang selalu padat.

Ini sudah malam, tapi keadaan diluar sana masih ramai. Itu yang Krystal sukai dari kota ini.

Begitu gemerlap dan tidak mengasingkannya.

“Saat kau menelpon tadi, kau bilang kau membantu temanmu menjaga bayinya?” tanya Kris tiba-tiba, Krystal mengernyit dan menoleh tapi didetik selanjutnya gadis itu mengangguk.

“Namanya Byun Sooeun, anak dari sahabatku, kenapa Bos?”

“Tidak, hey, apa kau menyukai anak kecil?”

“Tentu saja, aku ingin memiliki seorang putra Bos.”

“Ini lucu, biasanya wanita karier sepertimu benci memiliki anak di usia muda. Yang takut kariernya terganggulah, tubuhnya jeleklah, dan ribuan alasan bodoh lainnya.”

“Bahagia untukku sederhana bos. Bagaimana denganmu?”

“Apa?”

“Belum berniat menikah?”

“Sudah.”

Krystal lagi-lagi mengulas senyumnya ketika Kris melirik sosok Victoria sebelum menjawab. Gadis itu mulai penasaran, apa hubungan Kris dengan Vic, mungkin lancang. Iya, terlalu lancang hingga Krystal sendiri tidak berniat menyuarakannya.

Victoria dan Kris sama-sama orang China, walaupun Kris tumbuh besar di Kanada tidak menutup kemungkinan kan Kris pernah ke China?

Tapi, tunggu dulu bukankah tadi Victoria berada di penerbangan dari Kanada?

Tanpa terasa Krystal mengernyitkan keningnya, mungkin gadis itu berpikir untuk tidak memikirkan apapun tentang ini, tapi disisi lain, nalurinya yang penasaran dengan sosok Kris menyelidiki.

Menatap kosong gerakan tangan Kris yang kini melambai didepannya.

“Jung Krystal?” bisik Kris.

Melihat Krystal yang hanya diam, berkelebat niat Kris membelai pipi Krystal yang lembut dan sedikit merona. Mungkin ini gila, tapi—malam itu Krystal benar-benar cantik dimatanya. Apa lagi dipayungi naungan bintang dan gemerlapnya lampu malam itu. Tangannya pun menggenggam gelas wine, so romantic feeling, right?

Tanpa sanggup menolak, Kris melakukannya, tidak tahu menahu mendapat dorongan dari mana, yang jelas begitu sadar, Kris sudah melakukannya.

Begitu tersadar, Krystal sudah menatap Kris, lurus dan mereka sama-sama tersentak, saling menjauhan diri masing-masing.

Apa yang baru saja kulakukan?

Kris mendecih pelan amat pelan, “Maaf.”

Krystal menggeleng, salah tingkah lalu menatap kebelakangnya, WHAT THE HELL?! Tiga orang disana diam, mungkinkah mereka melihat semua?

Dan pemikiran tentang Kris dan Victoria mulai meracuni benak Krystal, kalau benar itu adanya bukankah kejadian tadi bisa membuat Vic salah paham?

Krystal takut, sangat takut begitu pula saat dia menyadari jantungnya sedikit kurang normal. Hingga, gadis itu memutuskan bergerak kedalam ruang tengah—melintasinya dan menuju kedapur, dia butuh air dingin saat ini.

“Maaf Bos, aku haus, a-aku mau ambil minum dulu.” Itu kata pertama dan, terakhir yang didengar Kris begitu mereka sama-sama diam. Hingga sosok Krystal kemudian berpindah kearah dapur yang samar-samar Kris bisa lihat.

“Harusnya aku yang minta maaf…” lirih Kris kemudian menatap lagi hamparan kota Seoul yang tak pernah tidur.

Dengan sedikit bergetar tangan Krystal memencet tombol disalah satu lemari es Kris. Lemari es mewah yang hanya dengan sekali pencet sudah bisa terbuka dan mengeluarkan beberapa botol air mineral. Krystal segera mengambil satu botol dan meneguknya dari mulut botol.

Peduli setan dengan gelas, Krystal butuh menjernihkan pikiran sekarang dan setengah botol air sudah ia tenggak dalam hitungan puluhan detik, dalam satu tarikan nafas.

Sedikit kehabisan nafas, kini Krystal rasakan, belum lagi perutnya yang terasa kembung tiba-tiba mendapat pasokan air sebanyak itu.

Bahkan mereka baru makan malam.

Ah Ya Tuhan—

Krystal menghela nafas pendek, menaruh botol air pada counter dapur.

Kenapa aku tiba-tiba kacau begini?

                                                                                             “Krys?”

Suara Victoria, Krystal segera mendongak. Kalau boleh jujur gadis itu sedikit parno sekarang.

Hey, apa Vic melihat adegannya dengan Kris tadi?

Dan apa gadis itu berniat menanya-nanyai Krystal?

Atau mungkin—ingin melabrak Krystal detik ini juga?

Mungkin segala hal semacam itu sudah memenuhi pikiran Krystal, kalau Vic tidak melewatinya dan megambil berbagai macam buah dalam lemari es.

“Berniat membantuku? Pencuci mulut sekaligus snack dimalam hari.” Ujar Vic riang.

Krystalpun hanya mengangguk lalu menghampiri Vic canggung.

“Kau kenapa?”

“Eung? Tidak.”

“Aku—tidak, kami bertiga tadi melihatmu dengan Kris, apa hubunganmu dengannya?”

Deg—

Deg—

Deg—

Krystal mulai merasakan jantungnya bertalu. Jadi benar Vic melihatnya? Apakah asumsi Krystal yang mengatakan ada hubungan antara Kris dan Victoria benar?

Kalau itu benar berarti Krystal harus hati-hati…

Sekarang saja Krystal sudah mulai membayangkan, Victoria akan menatapnya tajam, lalu memukul—atau, menjambaknya?

Mungkin keduanya, setidaknya itu yang ada di drama yang biasanya Krystal lihat, ada juga bayangan yang mengatakan Victoria akan menghunuskan pisau kearah Krystal jika dia salah bicara satu patah kata saja.

Enam—

Sepuluh—

Limabelas—

Didetik berikutnya, semua baik-baik saja, Victoria tetap mendaratkan fokusnya pada buah melon yang sedang dia potong.

Tidak berbalik dan mencakar Soojung seperti yang ada dibayangan sekretaris Kris itu.

Oh—baby Soojung, nampaknya kau harus membatasi genre film yang kau tonton. Itu tidak bagus untuk ketentraman jiwamu.

“Jangan salah paham, kami tidak seperti yang kau pikirkan!”

Akhirnya Krystal bersuara… matanya melirik Victoria sejenak, wanita itu masih diam—bahkan, ada seulas senyum merekah disana.

Apa itu senyum palsu?

What the…

Victoria menoleh pada Krystal, menunjukkan senyum yang semakin tulus, “Kuberi kau satu rahasia…”

TBC

Prefiew next part:

“Hallo, aku Kim Jongin.”

“Kau masih menyimpannya, dan bahkan memakainya ya…”

“Kalian saling mengenal?”

“Tidak, tapi kami pernah berjumpa sebelumnya.”

“Benarkah Jiyeon?”

“Aku ingin kita bertemu, hanya sebentar.”

“Aku ingin mengembalikannya padamu.”

“Aku lebih bahagia jika kau yang menyimpannya.”

“Gomawo, kau yang terbaik Soojung, saranghae.”

“Kurasa, kita harus memulainya dari awal…”

“Berteman?”

“Ya, berteman.”

“Kai, aku… Aku ini apamu?”

Im sorry for late update.

Sebenernya part ini udah selesai dari minggu2 kemaren, hanya saja tiba-tiba aku minder buat ngepost. Gatau kenapa sih… cuman merasa kurang kemana-mana dan ga pantes buat di post.

Tapi—karena aku udah mengeluarkan teaser dan part 1, aku memberanikan diri buat ngepost.

Walau ini kurang banget keep RCL ya buat yang baca :”)

Em—satu lagi, aku menerima kritik dan saran sepedes apapun.

Bye—